Laman

Selasa, 19 Juni 2012

The Power of Unreasonable - Sindo 14 Juni 2012

Saya sedang menyiapkan bahan-bahan untuk sebuah seminar international di New York saat diminta berbicara di depan para petani herbal dalam Bogor Organic Festival hari Minggu lalu. Di depan saya berjajar sekitar seratus orang yang disebut Jhon Elkington dan Pamela Hartigan sebagai “unreasonable models.” Mereka duduk di bawah sebuah tenda besar di halaman kampus pasca sarjana IPB.

Mereka disebut unreasonable karena berbagai alasan. Investasi besar-besaran tetapi kok bukan untuk memupuk kekayaan? Investasinya kok seperti orang yang keasyikan konsumsi. Tidak mikir ROI atau ROA. Pokoknya senang diri, sepuas hati. Tetapi mereka ingin merubah sesuatu, memperbaiki atau entahlah kalau menghancurkan sistem yang sudah ada.

Dalam bahasa di ranah inovasi, mereka disebut sebagai destructive innovator. Lihat saja apa yang dilakukan Helianti yang membuat kampung herbal di Yogya dan diam-diam menembus Eropa dengan beras warna-warni asli Indonesia. Ia membangun jaringan perlahan-lahan. Ketika sulit mengklaim status organik karena memerlukan banyak sertifikasi, ia justru menggunakan kata natural. Di kantornya hanya ada 10 orang, tetapi di belakangnya ada ribuan petani yang menanam dengan menghitung biaya bersama-sama.  Mereknya, Javara mulai dikenal seperti arang batok kelapa Cococha yang ramah lingkungan yang dipasarkan Bambang Warih Kusumo.  Kala orang Eropa dilanda krisis, mereka memilih masak di rumah ketimbang makan di luar.

Ratu herbal lainnya siapa lagi kalau bukan Ning Hermanto yang selalu tampil dengan topi mahkota berwarna serba ungu. Media massa menjuluki pelopor mahkota Dewa ini sebagai Ratu Herbal. Ia mengajarkan para petani meracik daun-daunan mulai dari sirsak sampai sukun. Tetapi ketika ia menemukan formula untuk membuat telur asin bebas kolesterol, resepnya justru diobral ke sana kemari.

Hari minggu itu, nenek Ambar yang menjadi pemasok telur asin ke berbagai supermarket yang belajar dari Ning harmanto juga hadir. Mereka sedang menapak agar bisa merevolusi. Dari UMKM menjadi pengusaha besar. Mimpi mereka, 5 tahun lagi kantor Kementerian Koperasi dan UMKM berganti nama menjadi Kementerian Usaha Menengah dan Besar. Bukan untuk gagah-gagahan, melainkan agar pengusaha-pengusaha baru jangan berpikir yang kecil-kecil terus.

Social Enterprise
Orang-orang yang unreasonable itu kini ada dimana-mana. Di Semarang ada, juga di Bali, Aceh, Papua, dan sebagainya. “They seek profit in unprofitable pursuits,” ujar Erlington dan Hartigan. Tetapi cara kerjanya  100% berbeda dengan cara yang ditempuh wirausaha konvensional.

Kalau orang lain selalu melirik usaha-usaha yang sudah jelas dan jelas-jelas untung, mereka justru menciptakan keuntungan dari hal-hal yang dianggap tidak menguntungkan. Seorang anggota asosiasi yang saya pimpin (AKSI) menyebut usahanya di atas sebuah kali di Semarang sebagai MLM alias Multi Level Manusia.

Caranya agak mirip dengan yang ditempuh oleh Orlando Rincon Banilla, pemuda yang dibesarkan di sebuah perkampungan “drug dealer” di Columbia. Di perkampungan kumuh itu ia memimpin gerakan kaum kiri yang berupaya mengembalikan sistem sosial dan keadilan. Karena leadershipnya menonjol, ia pun ditawari beasiswa untuk kuliah di Universitas Medellin. Di sana ia mengambil double major: Antropologi dan sistem engineering.  Disitulah ia mulai tertarik menjadi wirausaha dan membangun perusahaan yang diberi nama Open System.

Tak pernah ia bayangkan perusahaan pembuat software ini maju pesat. Tv, internet, ponsel, PLN, dan perusahaan-perusahaan besar lain menjadi pelanggannya.  Pada tahun 2004, kekayaan bersihnya mencapai $14 juta. Tetapi ia tidak puas. Ia berkelana ke India, melihat apa yang terjadi di Bangalore, lalu menelusuri surga IT di Irlandia. Tuhan membukakan matanya bahwa sistem business yang ia lihat sehari-hari adalah sistem ketidak adilan yang membuat orang muda terperangkap menjadi buruh atau pegawai.

Open systempun ia tinggalkan.

Mereka ini memang Unreasonable.  Yang membuatnya untung saja tidak membuatnya tertarik. Orang seperti Orlando justru membangun Parquesoft. Ini agak mirip dengan Putra Sampoerna yang meninggalkan bisnis rokok yang menguntungkan dan yayasannya masuk ke sektor pendidikan yang unprofitable dan aktif mengembangkan angel investor. Parquesoft, yang didirikan Orlando adalah non profit innovation park yang mengumpulkan ribuan anak-anak kampung putus sekolah, menjadikan mereka pengusaha IT seperti dirinya.

Anda ingin tahun bagaimana hasilnya? Lima tahun yang lalu saja, software buatan anak-anak kampung itu telah menembus 40 negara dan menjadikan mereka sebagai wirausaha yang terus naik kelas. Bisnis Orlando adalah bisnis Multi Level Manusia,  dan orang-orang seperti mereka disebut adalah Social enterpreneurs yang kini menjadi tren  dan mereka mendirikan social enterprise.

Bagi saya  social enterprise adalah ya enterprise. Namun berbeda dengan business enterprise tradisional. Social enterprise mempunyai social mission yang jelas. Profitnya juga tidak dipakai untuk memperbesar tabungan pendirinya di bank, melainkan diputar untuk kesejahteraan dan memberantas ketimpangan sosial. Seperti air sungai yang keruh sekalipun, sepanjang mengalir ia tak pernah menjadi busuk layaknya air kubangan.  Demikianlah filosofi social entrepreneurs. Biarkan tak besar, asalkan mengalir dan berputar.

Dan berbeda dengan pejuang-pejuang sosial yang berjuang melalui demo dan advokasi-advokasi politik beraliran dialektis-konfliktis, mereka menggunakan market –trading product yang diwirausahakan seperti layaknya pengusaha sejati. Tengok saja bagaimana almarhum Paul Newman yang aktif membiayai anak-anak penderita kanker. Di hari tuanya itu Paul Newman berwirausaha di sektor makanan dalam kemasan berskala besar.

Jadi, social enterprise ya samalah dengan bisnis yang Anda kenal. Ia adalah enterprise dengan social mission. Inilah topik yang akan saya bahas tanggal 19 Juni siang nanti di menara UOB. Orang-orang yang unreasonable ini adalah gabungan dari inovasinya Bill Gates dengan mangkuk sucinya Bunda Teresa. Bagi saya, inilah jalan menuju perubahan sosial yang sudah lama dirindukan para negarawan besar
Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

1 komentar:

  1. ini kisah nyata saya . . . .

    perkenalkan nama saya wanda hamidah, saya berasal dari kota Bandung saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusaan Yogyakarta.dimana saya sudah hampir kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di perusaan itu.

    Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin mempunyai usaha atau toko sendiri,namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud

    saya coba" buka internet dan saya lihat postingan orang yg sukses di bantu oleh seorang kyai dari sana saya coba menghubungi beliau, awalnya saya sms terus saya di suruh telpon balik disitulah awal kesuksesan saya.jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk SOLUSI MUDAH, CEPAT LUNASI UTANG ANDA, DAN MASALAH EKONOMI YG LAIN, TANPA PERLU RITUAL, PUASA DLL. lewat sebuah bantuan penarikan dana ghoib oleh seorang kyai pimpinan pondok pesantren shohibul Qur’an. dan akhirnya saya pun mencoba menghubungi beliyau dengan maksut yang sama untuk impian saya dan membayar hutang hutang saya.puji syukur kepada tuhan yang maha esa melalui bantuan beliau.kini sy buka usaha distro di bandung.
    Sekali lagi Saya mau mengucapkan banyak terimah kasih kepada K.h. Muh. Safrijal atas bantuannya untuk mencapai impian saya sekarang ini. Untuk penjelsan lebis jelasnya silahkan >>>>>>>>KLIK SOLUSI TEPAT DISINI<<<<<<<<<
    Anda tak perlu ragu atau tertipu dan dikejar hutang lagi, Kini saya berbagi pengalaman sudah saya rasakan dan buktikan. Semoga bermanfaat. Amin..

    BalasHapus