Laman

Selasa, 05 Juni 2012

Mantra

Dalam agama Hindu dan Budha, mantra adalah sebuah kekuatan. Ia terdiri dari kalimat-kalimat indah yang dipercaya mampu menimbulkan transformasi spiritual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mantra ditafsirkan sebagai kalimat puitis yang mampu menghasilkan kekuatan gaib.

Sebagai social-entrepreneur saya sering didatangi LSM-LSM asing yang melakukan studi tentang gerakan Rumah Perubahan dan kewirausahaan sosial Indonesia. Tentu saja mulai banyak yang melakukan studi untuk memetakan kekuatan "pasar" bisnis sosial ini.  Mereka menawarkan untuk membuat pasar modal sosial, pinjaman maupun bantuan teknis,  dan mereka selalu bertanya apa mission statement kami. Terus terang saya agak gelagapan. Ada yang bilang kami terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan hal yang mendasar. Ada lagi yang mencoba menyodorkan dengan bahasa-bahasa yang resmi, tetapi rasanya kok agak kurang klop.

Sampai akhirnya mereka melirik kalimat yang terpampang di lobi ruang tunggu kami dan mengatakan inilah mission-nya. Saya tertegun. Saya katakan ini bukan mission statement, melainkan “mantra” kami.

Janji Suci
John Elkington dan Pamela Hartigan yang menulis buku “The Power Of Unreasonable People” (2008) menulis bahwa social entrepreneur terdiri dari orang-orang yang terinspirasi oleh dua sosok sekaligus, yaitu Richard Branson (Virgin Atlantic) dan Mahatma Gandhi, atau lebih tepat lagi gabungan antara daya inovasi dan kewirausahaan Bill Gates dengan kekuatan hati Bunda Theresa.

Gabungan keduanya itulah yang membuat kami sibuk dalam arti yang sebenarnya. Kami memilih untuk turun ke lapangan, berbuat sesuatu daripada mengikuti rapat-rapat resmi yang menghabiskan waktu berjam-jam. Kata Elkington dan Hartigan, “social entrepreneur itu langsung melompat sebelum memeriksa ketersediaan modalnya.” Mereka hanya mengidentifikasi masalah sosial, menerapkan solusi-solusi praktis, lalu mengubah masalah menjadi peluang dengan inovasi-inovasi praktis dan jejaring yang dimiliki. Mudah sekali, bukan?

Apalagi yang mau dibuat sulit kalau kaum tuna netra yang tak punya uang  saja bisa menampung anak-anak terlantar, atau seorang ibu yang kakinya pincang bisa mengkoordinasi puluhan tukang jahit dalam pemberdayaan yang ia bangun. Rasanya malu menjadi manusia terdidik kalau tak bisa berbuat nyata.  Itulah panggilan yang belakangan menguat di seluruh dunia.

Jadi kami tidak merasa perlu-perlu amat ilmu langit yang sulit dimengerti. Hanya saja, di Jakarta, mengelola hampir seratus orang kalau tidak pakai manajemen modern cukup memusingkan.
Tetapi kalimat yang ada di ruang tamu kami itulah yang sesungguhnya menggerakkan kaki 100 orang di belakang saya. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, orang-orang yang tak sejalan dengan kalimat itu gugur satu persatu sebelum misi itu tercapai. Tetapi kalau dibilang mission statement rasanya kurang pas. Saya menyebutnya sebagai  janji suci yang kita ucapkan berulang-ulang di dalam hati dan dipakai untuk menggerakkan langkah.

Kalimatnya memang agak puitis dan bunyinya begini. “Apa yang kita lakukan dan bermanfaat bagi diri sendiri akan mati bersama kita. Tetapi, Perubahan yang dilakukan dan bermanfaat bagi orang lain, akan kekal abadi.” Saya sudah tak ingat betul dari mana kalimat itu berasal, apakah mengalir begitu saja atau pengaruh dari buku-buku yang saya baca atau ucapan orang-orang hebat. Saya memang banyak membaca dan bertemu banyak orang sehingga wajar bila kita saling membentuk.  Tapi setiap kali menghadapi masalah atau kesempatan, ya janji itu yang keluar, mengalir seperti air.

Kalimat kedua bunyinya begini: “Perubahan belum tentu menjadikan sesuatu menjadi lebih baik, tapi tanpa perubahan tidak ada pembaharuan, takkan ada kemajuan.” Itulah yang saya sebut sebagai mantra, dan rasa-rasanya ini lebih kuat dari sekedar visi, misi yang sepertinya hanya menjadi symbol formalitas.

Petuah Kawasaki
Pentingnya mantra ternyata tidak hanya disadari oleh social entrepreneur. Dalam bukunya yang berjudul “The Art of The Start Up”, mantan co-founder Apple yang menangani divisi Macintosh, Guy Kawasaki, ternyata mengamininya.

“Tutuplah matamu, dan pikirkanlah bagaimana Anda melayani customer Anda. Apa makna yang ingin Anda buat? Kebanyakan orang berpikir, aspek why ini sebaiknya dituangkan dalam ‘mission Statement’. Lupakanlah,” katanya. “Mulailah bukan untuk mengimpresi, tetapi dengan meaning. Tanyakanlah pada diri sendiri apa yang Anda ingin ciptakan di dunia ini agar hidup Anda menjadi lebih berarti.”
Dengan membuat meaning, Anda akan mendapatkan lain-lainnya. Sebaliknya kalau seseorang diajarkan “harus sukses”, “harus kaya”, maka seseorang tak akan mendapatkan meaning, dan belum tentu juga menjadi kaya. Orang-orang yang hanya berbicara uang tak memiliki janji suci dan tak mempunyai mantra hebat selain bahasa uang.

Mantra memiliki kekuatan gaib yang diikuti oleh karyawan. Sedangkan tag line di pakai untuk pelanggan. Ia mengartikan mantra sebagai sebuah formula verbal yang suci, yang biasa diucapkan berulang-ulang dalam hati, pada sebuah doa atau meditasi, dan mempunyai potensi mistis yang kuat.
Lantas mengapa mulai banyak entrepreneur yang mempertanyakan kekuatan “mission statement”?
Tim Berry menjelaskan, “Mission statement benar-benar sebuah pemborosan. Dibuatnya memakan waktu dan banyak frasa yang tak bermakna sehingga mudah dilupakan, baik oleh pendirinya maupun pengikut dan para penerus.” Kata-kata yang dipakai cenderung klise, seperti kata adil-makmur, mandiri, demoratis, gotong-royong, dan seterusnya yang biasa dipakai oleh calon presiden, gubernur, atau bupati.

Dalam bisnis, sewaktu saya membuka-buka mission statement yang ada, kalimatnya juga mirip-mirip dan cenderung klise. Ada ribuan – bahkan puluhan ribu – mission statement yang menggunakan kata-kata prima (excellence), unggul (competitive), kepemimpinan (leadership), pelanggan (customer), terbaik (best), kualitas, dan seterusnya.

Mana Janji Suci-nya?  Saya kira Andapun tak perlu muluk-muluk membuat mission statement di depan, padahal bisnis Anda belum tentu bergerak.  Buat saja janji suci dan ucapkanlah berulang-ulang agar ia memiliki kekuatan gaib.  Pengalaman saya dalam membangun usaha, justru yang belum apa-apa sudah di visi-misi kanlah yang gugur di depan.  Visi-misi baru Anda perlukan pada tahapan formalisasi, tahap lepas landas setelah keruwetan start-up Anda lewati.  Mari kita buat mantra yang gaib itu.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar