Laman

Jumat, 22 Juni 2012

Assertiveness - Jawapos 18 Juni 2012

Di atas pesawat komersial armada Amerika, seorang pria Asia masuk tergopoh-gopoh membawa sebuah tas besar. Di belakangnya, ikut seorang perempuan muda menggendong bayi yang baru berusia satu setengah tahun. Tangan kanan pria itu menenteng tas besar sedangkan tangan kirinya yang tengah digips menggantung pada kain segitiga, layaknya pasien patah tangan.
Di pintu masuk, pramugari bule menghardiknya. "Itu tak bisa dibawa masuk, terlalu besar" Ujarnya tegas. ""Lalu bagaimana?"tanya pria itu. "I don't know, " Ujar crew bule tadi. "We will call your agent," tambahnya ketus.

Pria itu mencoba memasukkan tas itu ke dalam bak kabin  di atas kepala penumpang. Seorang pria tua berdiri dan menolongnya. Dan seorang pria lainnya ikut membantu. Mereka sudah lebih dulu duduk, dan bak kabin sudah cukup penuh. Mereka bertiga menyusun letak tas dan mati-matian memasukkan tas besar itu karena ukurannya pas sekali. Setelah berupaya keras, tas itu pun berhasil masuk. Dan semua penumpang bersorak gembira, seakan menunjukkan ketidaksukaan  pada pelayanan airlines yang buruk.

Pria tadi beserta istri dan anak bayinya lega duduk di kursi, dan crew tadi tak mempedulikannya.
Pria itu adalah saya, dan perempuan tadi adalah istri saya, yang tahun 1998 kembali ke tanah air setelah lebih dari 6 tahun menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Bodoh, lugu, ribet, namun tetap santun. Itu saya alami dan betapa gregetan menghadapi crew yang kaku dan tak melayani.  Kalau saya ingat, saya hanya bisa berbatin, "pantas airlinesnya bangkrut."

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman  sebuah film pendek dari teman-teman saya dari jaringan global Yale School of Management. Di situ tergambar seorang crew yang menegur penumpang yang masih memakai ponsel di dalam pesawat. Pria itu mohon-mohon waktu beberapa detik karena  emergency. Tetapi crew  tak peduli, ponsel diambil dan dicemplungkan ke dalam gelas kopi. Dan ia pun beranjak pergi.  Film itu ditutup sebuah pesan: Be assertive, or you loose customers!

Bukan Agresif
Dalam kamus, kata assertive  diartikan tegas dan assertiveness adalah ketegasan. Namun sebenanya assertiveness adalah sebuah training tentang  keberanian menyatakan apa yang dipikirkan atau dirasakan secara jujur dan terbuka tanpa mengganggu hubungan.  Assertiveness tak dapat disebarkan tanpa latihan, itu sebabnya harus ada dalam kurikulum sekolah dan diajarkan  kepara calon eksekutif.

Celakanya, "tegas" di sini sering diartikan sebagai perilaku yang garang. Tengoklah pendapat-pendapat tentang kepala negara yang sering kita dengar. "Presiden tidak decisive, tidak tegas." Tetapi tengoklah bagaimana mereka menyampaikannya.  Semua itu disampaikan dengan tone tinggi, sangat garang. Agresif. Persis seperti crew airlines yang memasukkan ponsel ke dalam gelas kopi ataucrew yang membentak saya  14 tahun yang silam.

Di jalan-jalan raya di Jakarta, ribuan caci maki juga semakin sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak sabar. Sepeda motor begitu mudah membunyikan "klakson amarah" hanya karena kendaraan lain kurang sigap memacu kecepatan.

Di lain pihak kita juga banyak menyaksikan orang-orang yang membiarkan haknya dilanggar orang lain.
Beberapa hari lalu misalnya, guru-guru TK dan PAUD Rumah Perubahan menyelenggarakan pentas seni kenaikan kelas. Mereka menyewa tenda yang disepakati harganya  dua juta rupiah, dan warnanya biru. Esoknya tenda dipasang, namun bukan berwarna biru. Apa yang dilakukan para guru? Anda benar, mereka memdiamkannya dengan alasan tenda sudah terpasang.

Hal serupa juga sering kita saksikan di check in counter di Bandara. Orang-orang yang tak berbudaya,  merapat ke depan tanpa menghormati antrean, dan petugas membiarkannya, bahkan melayaninya. Di satu pihak ada kelompok agresif, di lain pihak ada kelompok yang susah bilang "tidak." Jadilah kekacauan.


Membangun Bangsa, Bangun Budayanya 


Di banyak negara maju, pemerintah tidak hanya mengurus pertahanan-keamanan dan kesejahteraan saja, melainkan juga kebudayaan. Kebudayaan bukan sekedar seni pertunjukan atau ekonomi kreatif, melainkan bagaimana masyarakat saling mengikat diri, membentukspirit kesatuan. Dan tanpa assertiveness ikatanpun pupus. Assertiveness ditanam sejak usia dini dan dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Hongkong dan Taiwan beberapa tahun ini gencar mengkampanyekan kata "terima kasih"  dan cara tersenyum. Maklum mereka memang malas tersenyum, padahal ekonominya hidup dari service.  Sebaliknya, pada tahun 1989, masyarakat Jepang digemparkan oleh buku "Japan That Can Say No" ("No" to leru nihon) yang ditulis pemimpin senior LDP, Shintaro Ishihara bersama almarhum pendiri Sony, Akio Morita. Pasalnya, orang-orang Jepang terlalu mendiamkan dan susah bilang "tidak", sehingga mudah didikte barat, dan kalau antreannya diserobot ya mereka diam saja. Pada tahun 1996, buku serupa ditulis di China: China Can Say No. 

Orang-orang yang pasif terlalu toleran terhadap maunya orang lain. Tetapi mereka tidak menghormati dirinya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang agresif memicu konflik. Kalau gilirannya diserobot, mereka rela berkelahi dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan martabat orang lain. Ia terlalu respek terhadap dirinya sendiri dan tak merubah prilaku buruk masyarakat.

Di tengah-tengah ada kelompok pasif-agresif yang sarkastis. Tidak terima diserobot, tetapi tidak berani menegur atau memperbaiki cara-cara yang tidak tepat. Ngomongnya kasar, sinis, tetapi tidak di depan orang yang bersangkutan. Gerundelnya di belakang, beraninya hanya pada lantai, atau dinding atau pada teman-teman lewat gosip atau social media dengan nama samaran.

Di Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara Skandinavia, juga di Thailand, assertiveness diajarkan di sekolah-sekolah sebagai wadah pembentuk karakter dan  kepribadian. Dengan bekal assertiveness, bawahan tidak akan membiarkan atasannya korupsi.  Bahkan di kampus sekalipun, dosen-dosen yang tidak memiliki assertiveness membiarkan rektornya korupsi. Paling-paling hanya gerundel di belakang. Sedangkan mereka yang berani berbicara terlalu keras. Akibatnya kampus hanya maju dari segi gedung-gedung yang tumbuh cepat, padahal di balik itu terjadi pembiaran dan pengrusakan.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

1 komentar:

  1. ini kisah nyata saya . . . .

    perkenalkan nama saya wanda hamidah, saya berasal dari kota Bandung saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusaan Yogyakarta.dimana saya sudah hampir kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di perusaan itu.

    Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin mempunyai usaha atau toko sendiri,namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud

    saya coba" buka internet dan saya lihat postingan orang yg sukses di bantu oleh seorang kyai dari sana saya coba menghubungi beliau, awalnya saya sms terus saya di suruh telpon balik disitulah awal kesuksesan saya.jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk SOLUSI MUDAH, CEPAT LUNASI UTANG ANDA, DAN MASALAH EKONOMI YG LAIN, TANPA PERLU RITUAL, PUASA DLL. lewat sebuah bantuan penarikan dana ghoib oleh seorang kyai pimpinan pondok pesantren shohibul Qur’an. dan akhirnya saya pun mencoba menghubungi beliyau dengan maksut yang sama untuk impian saya dan membayar hutang hutang saya.puji syukur kepada tuhan yang maha esa melalui bantuan beliau.kini sy buka usaha distro di bandung.
    Sekali lagi Saya mau mengucapkan banyak terimah kasih kepada K.h. Muh. Safrijal atas bantuannya untuk mencapai impian saya sekarang ini. Untuk penjelsan lebis jelasnya silahkan >>>>>>>>KLIK SOLUSI TEPAT DISINI<<<<<<<<<
    Anda tak perlu ragu atau tertipu dan dikejar hutang lagi, Kini saya berbagi pengalaman sudah saya rasakan dan buktikan. Semoga bermanfaat. Amin..

    BalasHapus