Laman

Minggu, 18 Desember 2011

Mencetak Wirausaha Papua - Sindo 15 Desember 2011

Duduk di sebuah kedai kecil di tepi Danau Sentani, seorang anak Papua memohon, ”Bantulah kami menjadi tuan rumah di sini.”

Permohonan itu diajukan dengan wajah penuh kesungguhan dalam suatu dialog, tak lama setelah saya memberikan materi kepada lebih dari 100 dosen yang akan disebar untuk menularkan virus kewirausahaan kepada mahasiswa di Papua. Hampir semua mengeluh tentang sulit dan jarangnya putra asli daerah yang berminat menjadi wirausaha. “Selamat hari Minggu Bapak,” kata-kata itu ramah keluar dari seorang bapak yang tengah menggendong anak kecilnya. Tapi pria itu berjalan tidak stabil.

Teman-temannya sambil tertawa berujar, “Mabuk. Sedang mabuk dia Bapak. Kami sedang pesta miras, ”ujarnya. Anak Papua, putra asli daerah yang tadi memohon menjadi tuan rumah,berkata kesal. “Beginilah nasib kami.Tidak punya uang tidur di kasur.Punya uang tidur di got.”Yang ia maksud tidak lain para pemabuk yang kalau punya uang dipakai membeli miras dan terbiasa ditemui di got karena mabuk. Entah mengapa mabuk menjadi biasa ditemui di kota-kota. Bahkan anak-anak terbiasa melihat ayahnya mabuk sejak kecil.

Dua Ancaman

Minuman keras adalah salah satu ancaman yang menghambat kemajuan anak-anak Papua untuk menjadi wirausaha. Dengan minuman keras, seseorang akan sulit mengendalikan emosinya.Apalagi bila menjadi addicted. Setiap kelebihan uang tidak dipakai reinvestasi, melainkan untuk bersenang-senang. Seorang pengusaha setempat berujar,“Kalau ingin cepat kaya jadilah penjual miras,” sambil membandingkannya dengan usaha penjualan ponsel yang ia geluti.

Miras impor,buatan luar Papua yang dikirim dari Sulawesi dan Jawa, serta miras lokal yang dibuat sendiri oleh penduduk bertempur hebat di pasar. Budaya minum miras ini memang bukan hanya ada di Tanah Papua, melainkan juga ada di beberapa provinsi lain. Sekitar 20 tahun lalu misalnya, saat menyeberangi Danau Toba menggunakan perahu-perahu bermesin saya sempat terkejut karena di bawah kemudi bertumpuk botol-botol minuman alkohol yang belum sempat dibersihkan. Pengemudinya pun menjalankan perahu sambil menenggak bir.

Tapi kemajuan ekonomi dan pendidikan membuat manusia lebih tertib.Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, penduduknya juga gemar minumminuman beralkohol. Tapi pemerintah yang sehat mengaturnya dan membatasi konsumsi secara berlapis. Pajaknya ditinggikan, anak-anak di bawah usia 21 tahun dilarang membeli dan mengonsumsi alkohol. Pesta alkohol di area publik dilarang keras dan undangundang (UU) melarang orang yang menenggak alkohol mengendarai mobil atau sepeda motor. Itu saja belum cukup mengurangi bahaya bagi orang lain.

Di Papua, pemerintahpemerintah kabupaten dan kota madya perlu menata kembali budaya minum alkohol.Kalau kita ingin melihat orang Papua menonjol dalam dunia usaha, budaya minum-minum ini harus dikendalikan.Setiap kali berkeliling kota dan desa di Papua, saya tidak menemukan satu pun wirausaha putra daerah. Bengkel, rumah makan, toko- toko kelontong, penjual ponsel,produsen bahan-bahan bangunan, dan sebagainya semua dijalankan para pendatang.

Satu-satunya usaha yang dijalankan penduduk setempat hanya jualan pinang. Wajar bila anak muda tadi mengungkapkan perasaannya agar bisa menjadi tuan rumah di tanah kelahirannya. Maka, saya pikir, diperlukan road mapkhusus untuk menularkan virus-virus kewirausahaan di Papua. Langkah pertamanya adalah membatasi peredaran minuman keras dan membentuk sikap mental disiplin di kalangan generasi muda. Lantas apa masalah kedua? Masalah yang tak kalah penting adalah PNS. Masalah ini sama pentingnya dengan budaya miras, tetapi mungkin lebih mudah bagi kita untuk memperbarui dan mengubahnya.

Hidup Enak PNS

Agen-agen pemilik toko ponsel di Papua mengatakan keheranannya karena pelangganpelanggan setia yang mampu membeli ponsel hingga lima buah dalam sebulan adalah PNS atau pegawai pemda.Di hampir setiap hotel dan rumah makan banyak ditemui aparat pegawai pemda dan PNS yang menikmati makan siang bersama, mengikuti rapat-rapat kerja, dan sebagainya. Pemandangan sehari-hari yang kasatmata adalah hidup enak menjadi PNS.

Dengan demikian tidak ada insentif psikologis yang dapat dijadikan stimulus untuk mendorong anakanak Papua menjadi wirausaha. Apalagi untuk menjadi wirausaha yang berhasil dibutuhkan kerja keras, disiplin, dan pengorbanan jangka pendek untuk mendapatkan hasil besar di masa depan. Jadi wajar saja bila di mana-mana penduduk asli Papua lebih memilih profesi sebagai birokrat. Terlebih lagi di jajaran birokrasi belum ditemui pemimpin yang berikhtiar melakukan perubahan.

PNS belum banyak disentuh baik sikap maupun budaya servisnya. Bekerja dengan mulut beraroma miras, berbicara sambil mengunyah pinang, masuk kerja tidak tepat waktu, menghilang sebelum jam kerja berakhir, penggunaan anggaran tanpa arahan yang jelas,pengukuran kinerja yang lemah, serta ketidak pedulian atasan dalam membentuk bawahan sangat menonjol. Kalau sudah demikian,siapa berminat menjadi wirausaha? Jawabannya jelas: pendatang! Orang-orang Bugis, Manado, Jawa Timur,Banjar,dan Minang mengisi kekosongan itu.

Kita tentu tidak bisa menularkan virus-virus kewirausahaan begitu saja tanpa menghentikan faktor-faktor yang menariknya ke arah lain.Tanpa kesungguhan pemerintah meningkatkan disiplin PNS dan mengisolasi budaya mabuk,saya kira upaya melahirkan wirausaha asli Papua dapat menjadi sia-sia.

Lantas, tanpa kehadiran wirausaha asli Papua secara kasatmata dalam kehidupan sehari-hari,saya kira benih-benih konflik dapat tumbuh secara subur. Bisakah saya berharap banyak dari pemerintah, wakilwakil rakyat, dan pemimpinpemimpin daerah untuk mengatasi kedua masalah itu?

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar