Laman

Minggu, 25 Desember 2011

Jabatan Untuk Mengimpresi(Atau Untuk Menggerakkan?) - Jawapos 19 Desember 2011

“Anda harus memilih: Nothing to loose atau cinta jabatan.” Kalimat itu mengalir dari mulut mantan CEO  PT. Pertamina yang all out melakukan pembaruan di eranya. Karena prinsip nothing to loose itulah ia menggunakan jabatannya untuk menggerakkan perubahan.

Saya kira yang dilakukan Ari Sumarno, secara kreatif juga tengah dijalankan oleh Menteri Dahlan Iskan. Kedua CEO ini sama-sama tidak berpikir jabatan untuk mengimpresi. Mereka sama-sama melihat jabatan hanyalah titipan untuk menggerakkan orang. Begitu berani mereka bergerak, memperbaiki yang rusak, membongkar proses dan mencari kebenaran. Dan kalau ada orang lain yang mencongkel jabatan mereka, dengan senang hati dan  tulus mereka rela dan mudah memberikannya.

Dalam pekerjaan “memperbaiki yang rusak” itu, mereka akan berhadapan dengan sejuta kejanggalan yang dibiarkan berlangsung selama bertahun-tahun oleh bawahan-bawahan mereka. Mengapa hal itu dibiarkan? Jawabnya adalah conflict of interest dan takut menghadapi risiko. Yang pertama membuat mereka risih karena diberi kenikmatan oleh pihak lain (publik menyebut mereka telah “dipelihara” orang kuat). Yang kedua membuat masalah dibiarkan berlarut-larut.

Namun keduanya sama-sama dipelihara oleh mereka yang cinta jabatan. Mereka hanya memakai jabatan untuk mengimpresi. Mereka membiarkan perusahaan atau lembaga yang dipimpinnya menjadi bank masalah.

Dua Tahun Yang Impresif
Pemimpin perubahan gerakannya segera tampak sejak hari pertama. Karena menguasai masalah dan masuknya sudah di tengah jalan, mereka langsung bertindak. See and Action! Berbeda dengan buku teks yang mengarahkan Anda memulainya dari selembar kertas dengan membuat rencana, mereka memulainya dari tindakan.

Karena itulah perbaikan yang mereka lakukan lebih menekankan pada aspek operasional. Dalam bahasa strategi inilah yang disebut sebagai Operational Excellence. Namun bagi Prof. Michael Porter, Operrational Excellence bukanlah strategi. Ia tak akan bermuara kemana-mana. Itulah sebabnya para doer dan change maker segera merumuskan strategi jangka panjangnya. Kalau ini sudah terbentuk, setahun-dua tahun kemudian mau-tidak mau perubahan akan menembus ke atas, ke arah orang-orang besar, yang terkait dengan kekuasaan dan hutang-budi kepentingan.

Itulah sebabnya, banyak change maker hanya mampu optimal melakukan perubahan selama dua tahun pertama. Memasuki tahun ke tiga mereka mulai tidak diajak bicara oleh layer-layer di level atas, dilarang bertemu dengan “pemimpin besar” yang dijaga para mafioso. Fadel Mohammad, Ari Sumarno, Antasari Azhar, Alm. Cacuk Sudariyanto (Telkom), dan banyak lagi tokoh perubahan mengalami hal serupa. Setelah itu bisa diduga mereka dicopot dan dari jabatannya. Padahal dulu “pemimpin besar“ memuja mereka, bahkan pemimpin besar yang merestui langkah-langkahnya, menstimulasi agar bekerja keras dan memberi hasil. Akhirnya pemimpin-pemimpin besar yang bodoh hanya memelihara mereka yang memakai jabatan untuk mengimpresi.

Apa sih ciri-ciri impression man atau impression woman seperti itu? Beginilah ciri-cirinya: Mereka berbicara penuh pesona, pekerjaannya hanya diarahkan untuk menyenangkan atasannya dan gemar beriklan, management one-level up (satu tingkat ke atas), Output riil-nya tidak ada, tidak berorientasi pada impact, mengutamakan atasan lebih dari segala-galanya, leadershipnya tidak 360 drajat, sangat menguasai jabatan dan bila melakukan kesalahan selalu ditutup dengan kesalahan-kesalahan lain atau menggunakan kekuatan Public Relations. Kalau belangnya ketahuan, mereka akan mengawal jabatannya begitu  keukeh dengan memakai puluhan lawyer dan jago-jago Public Relations.

Sebagian orang sangat mungkin terkecoh. Kami di Universitas Indonesia dan banyak Wartwan saja bisa terkecoh oleh prestasi pemimpin tertinggi kami di universitas yang seakan-akan luar biasa. Tetapi waktu akan menemukan kebenaran, karena mereka yang cinta jabatan hanya memoles prestasinya dengan kebohongan-kebohongan yang lambat laun sulit ditutupi. Sebaliknya, pemimpin sejati adalah mereka yang nothing to loose dan fokus pada penyelesaian masalah, bukan mempertahankan kekuasaan.

PDCA
Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan rumus kemajuan yang sangat dikenal di kalangan insan PT. Astra International. Rumus ini selalu diingat para lulusan Astra, yaitu Plan-Do-Check-Action cycle. Tetapi dari ke empat elemen itu selalu terdapat perbedaan penerapan.

Mereka berkarakter thinker akan menghabiskan waktu pada aspek planning. Sedangkan para doer akan fokus pada action. Namun perlu saya tegaskan, keempat elemen itu harus dijalankan bersamaan. Anda kerjakan, Anda cek hasilnya, masukkan ke dalam rencana, koreksi, lalu tindak lanjuti.

Kalau ini Anda lakukan dengan tulus, Anda tidak perlu melakukan perubahan. Perusahaan otomatis akan tumbuh menjadi besar, adaptif dan sehat. Kalau tidak ada ketulusan, Anda akan terlibat dalam kesulitan yang Anda buat sendiri. Anda akan terperangkap dalam “cinta jabatan” dan “takut kehilangan”. Orang-orang yang tulus akan berani berbuat, berani berkorban, tidak memerlukan dukun sakti atau “petugas pemadam kebakaran” karena Anda tak takut kehilangan. Jabatan boleh hilang, tetapi kehormatan akan menentukan apakah Anda bisa kembali lagi, bounce, atau pecah.

Happy holiday, selamat merayakan Natal bagi umat Nasrani. Selamat Tahun Baru bagi kita semua. Tetaplah tulus dan berani dalam menjalankan amanah

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar