Laman

Rabu, 18 April 2012

Leadership Style - Jawapos 12 April 2012

Akhir pekan lalu, dalam suasana Paskah, saya menjalankan dua tugas sekaligus. Yang pertama mengunjungi komunitas Jaringan Rumah Usaha di Semarang dan berbicara dengan para penggerak kewirausahaan sosial yang dikumpulkan penggagasnya, Sdr Ilik Sasongko.

Orangnya sederhana,pendidikannya juga biasa-biasa saja, tetapi mereka rajin membaca dan mengeksplorasi pengetahuan- pengetahuan baru. Di tangannya ribuan orang berubah nasibnya. Ia menyebut kegiatannya sebagai MLM (multi level manusia). Ia melipatgandakan manusia-manusia yang mau bekerja keras, mengubah nasib dengan berusaha secara sosial,namun penuh berkah.

Sedangkan yang kedua, saya bertemu 14 pimpinan puncak sebuah investment company terbesar Indonesia di suatu vila yang sejuk di tengah-tengah perkebunan kopi di Losari, dekat Salatiga. Mereka adalah para profesional terpandang, berpendidikan tinggi, namun cerdas dalam mengendus peluang. Mereka adalah investor-investor besar terpandang yang dicari banyak orang.

Di kedua tempat itu saya ditanya tentang leadership style, dan tentu saja mereka membicarakan style dari nama-nama yang sangat populer di telinga kita,mulai dari Jokowi, Dahlan Iskan, Foke, SBY, Megawati, sampai Prabowo Subianto, Robby Djohan, atau bahkan Jack Welch, Lee Kuan Yew, dan Herb Kelleher. Saya tentu juga membicarakan tokoh-tokoh yang saya kagumi seperti Aung San Suu Kyi, Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf, Pakde Karwo, dan Raja Wayapo di Pulau Buru, Malili Besan.

Entah mengapa saat ini begitu banyak orang yang concern dengan leadership style. Mungkin karena masyarakat kita mulai berubah menjadi tak berjarak dengan pemimpin-pemimpinnya. Kata Dubes Amerika Serikat di sini, “Setiap pagi, begitu bangun, rakyat Indonesia mengkritisi pemimpin-pemimpinnya.” Saya pikir sinyalemen ini ada benarnya,1.000% benar. Mahasiswa- mahasiswa saya, warga di kampung tempat saya tinggal, para karyawan, bahkan penonton- penonton televisi, semua siap berbicara dan mengkritisi kepala negara, pemimpin partai, pengusaha sampai bos-bos mereka,pak lurah atau pak RT.

Semua dapat giliran dikritisi atau mengkritisi. Hebat sekali bangsa kita ini,bukan? Karena itulah, leadership style menjadi topik yang hangat, sehangat pembicaraan di Twitter yang membicarakan gaya Dahlan Iskan yang menggratiskan jalan masuk tol Ancol, atau saat Obama omong soal “sate” dan “bakso”ketika mengunjungi Jakarta. Pokoknya setiap gaya dan cara orang memimpin selalu dikomentari. Yang satu lelet, berdeklamasi, terlalu serius, sedangkan yang lain terbuka, berpakaian bebas, agak santai, mendatangi, dan seterusnya. Pakaian, sepatu, dan cara yang dipakai selalu dikomentari.

Karakter dan Kompetensi

Setiap kali menyaksikan munculnya pemimpin-pemimpin baru dan mendengarkan pembicaraan pemimpin-pemimpin tua, Anda mungkin bisa melihat dua sisi mereka sekaligus. Kedua sisi itu seperti sekeping uang logam yang menyatu dan tanpa disadari oleh yang bersangkutan membentuk pikiran kita tentang style mereka. Kedua sisi itu adalah “what a person is” dan “what a person does” Ya, seperti kesatuan pada uang logam itulah Stephen Covey menyebutnya.

What a person is” merupakan refleksi dari apa yang ada di dalam hati sanubari dan pikiran seseorang, yang membentuk suatu fondasi. Apakah fondasinya kuat dan dalam sehingga bisa membentuk bangunan tinggi di atasnya? Atau fondasi yang tipis, dangkal, dan terbuat dari bahan-bahan yang mudah rapuh sehingga mudah dirobohkan gelombang dan angin puting beliung? Yang satu berdiri kokoh dan terhindar dari perbuatan-perbuatan nista, sedangkan yang satunya lagi tak bisa menjulang tinggi ke angkasa.

What a person is” adalah refleksi dari sebuah karakter. Akar dari sebuah pohon yang menancap ke dalam tanah. Kata seorang filosof, karakter adalah “apa yang diucapkan oleh malaikat di hadapan Tuhan tentang kita. ”Karakter tak dapat diciptakan meskipun Anda membayar mahal pengamat- pengamat politik yang memiliki lembaga polling atau pakar-pakar komunikasi yang bisa melatih Anda cara berbicara dan menampilkan diri di hadapan publik.

Yang bisa dibangun itu cuma sebuah drama, yang disebut “reputasi pencitraan”. Karakter berbeda dengan “reputasi pencitraan”. Menurut filsuf tadi, reputasi itu dapat diumpamakan sebagai “apa yang diucapkan oleh para pelayat yang hadir pada upacara pemakaman seorang tokoh”. Reputasi hanya mencerminkan apa yang tampak di garis luar, disampaikan oleh orang-orang tertentu untuk “menghibur hati”. Reputasi adalah ucapan orang yang bisa tulus, bisa juga tidak. Bisa benar, bisa juga dibenar-benarkan.

Namun, sekalipun karakter penting, ia belumlah cukup. Kata Jusuf Kalla, karakter “jujur” saja tidak bisa memajukan suatu bangsa, apalagi memecahkan masalah-masalah yang rumit. Karena itu, pemimpin juga diukur dari “apa yang ia lakukan”. Inilah yang dimaksud dengan Steven Covey sebagai “What a person does”.Dan “What a person does” merupakan cerminan dari kedalaman kompetensi dan kematangan karier seseorang.

Mungkin seperti Anda lihat bagaimana Dahlan Iskan membuka pintu tol, Jokowi menyetir mobil Esemka, Habibie membangun Dirgantara Indonesia dengan menggebu-gebu atau Herb Kelleher menyambut penumpang pesawat yang dipimpinnya (Southwest Air) dengan wig warna-warni sambil membagi-bagikan permen dan bunga. Dengan demikian, latar belakang Anda akan membentuk pribadi Anda.

Dahlan Iskan adalah seorang yang berjiwa wirausaha, setelah jatuh bangun menjadi wartawan, ia membangun usahanya yang juga berbasiskan jurnalistik. Maka ia pun menghendaki kemandirian, kejujuran, dan kebebasan. Seperti waktunya yang bebas mendatangi narasumbernya, ia juga ingin serba cepat dalam mengambil keputusan karena ia terbiasa bekerja dengan informasi.

Demikian pula dengan JK yang dibesarkan dalam lingkungan berdarah “saudagar”. Ia memiliki kecepatan berpikir dalam lingkungan yang dinamis. Mereka berdua berbeda dengan orang-orang yang meniti kariernya dalam lingkungan birokratis yang harus berhati- hati dalam berbicara, harus loyal,dan setia pada atasan serta merasa kekurangan walaupun kekuasaannya besar.

Meski dibentuk oleh sejarah, saya kira setiap orang bisa belajar bahwa kini segala sesuatunya telah berubah dan dunia menghendaki pemimpin yang jujur, aktif, berpihak pada kepentingan rakyat, mendatangi, dan kreatif.

Sepintas tampaknya sulit, apalagi bila Anda dibesarkan dalam dunia yang selalu membatasi ruang gerak Anda.Tetapi, saya ingin mengatakan dunia ini menghendaki ada perubahan. Maka beradaptasilah dan perbaiki leadership style Anda

Rhenald Kasali
Founder RUmah Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar