Laman

Senin, 04 Februari 2013

MM Aktuaria - Sindo 31 Januari 2013


Ketika sebagian besar lulusan universitas mengambil bidang-bidang yang general, profesi-profesi baru yang lebih spesifik justru bermunculan. Siapa yang menyangka profesi berbayaran tinggi sekarang diidamkan oleh para spesialis.

Ambil saja contoh profesi aktuaris dan geologis yang sangat kurang diminati. Bukan karena prospeknya tidak bagus, tetapi mungkin ketidaktahuan atau kurangnya minat belajar yang ilmunya sedikit agak sulit ketimbang ilmu-ilmu sosial pasaran yang modalnya cukup membaca, menghafal atau analisis sederhana. Menjadi aktuaris dan geologis membutuhkan keahlian menghitung dan science yang tinggi. Padahal anak-anak Indonesia sejak kecil sudah dilatih dengan kemampuan matematika yang advance. Mengapa anak-anak yang sekolah dasar dan menengahnya sudah diberi beban yang sangat berat dengan matematika dan fisika itu justru tak bermuara pada bidang-bidang studi berbasis ilmu yang penting itu?

Kurang Pasokan
            Kurangnya pasokan geologis sudah lama dirasakan sehingga wajar bila perusahaan-perusahaan minyak dunia, termasuk dari Qatar dan Malaysia sering beriklan mencari SDM dan "membajak" mereka dari perusahaan perusahaan migas disini. Sudah lulusannya sangat terbatas, yang sudah ada saja masih dibajak. Memang pekerjaan mereka bisa jauh dari kota dan keluarga, tetapi bayaran yang diterima sangat tinggi. Bisa sepuluh kali lipat dari rata-rata sarjana bidang ilmu lainnya.

Di sisi lain,  untuk menjadi aktuaria, seorang ahli tidak harus bekerja di daerah pedalaman atau di lautan lepas seperti geologist. Aktuaris bekerja di sektor keuangan, khususnya  asuransi dan dana pensiun. Dengan latar belakang matematika, fisika atau engineering atau juga financial economics, mereka bisa menjadi aktuaris yang tangguh.  Aktuaris adalah tenaga ahli yang mengaplikasikan matematika dalam bidang keuangan, dengan menghitung besarnya resiko yang akan terjadi di kemudian hari.

Dengan begitu dibutuhkan keahlian membaca peta ekonomi makro, statistik dan accounting.  Apalagi kalau ini berkaitan dengan produk-produk asuransi yang resikonya harus diukur yang berbeda dari satu kasus ke kasus-kasus lainnya.  Dalam asuransi jiwa, hal ini menjadi lebih kompleks karena berhubungan dengan tradisi menjaga kesehatan, dan demografi.  Dan dalam dunia perasuransian Indonesia, ada Surat Keputusan Menteri Keuangan (Nomor 426/KMK.06/2003) yang mewajibkan setiap perusahaan  asuransi jiwa untuk mengangkat  aktuaris  yang memiliki kualifikasi yang ditetapkan dan disertifikasi oleh Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI).  Dan  diijinkan pula pemegang sertifikasi dari asosiasi sejenis  luar negeri yang terdaftar sebagai anggota penuh International Association of Actuaries.

          Dengan melihat langkanya jumlah aktuaris yang dapat menghambat pertumbuhan industri asuransi Indonesia,   Minggu lalu MMUI yang saya pimpin membuka program MM aktuaria. Bukannya apa-apa. Data dari PAI (Perusahaan Aktuaria Indonesia) menunjukkan negeri ini butuh sekitar 600-an aktuaris. Namun yang tersedia baru 170-an. Itupun, menurut alumnus kami yang menjadi ketua PAI, Budi Tampubolon, setiap tahun selalu ada anggota yang pensiun atau meninggal dunia.  Kalau MMUI meluluskan 20 orang saja setahunnya, dalam 10 tahun, sudah pasti kebutuhan itu belum terkejar.  Memang ada program S1, tetapi proses ujian untuk menamatkan status sebagai Fellow Society of Actuaries of Indonesia (FSAI) membutuhkan waktu yang panjang.  Hanya memiliki keahlian menghitung (matematika) saja ternyata belum mencukupi.

            Padahal kebutuhan aktuaris di Indonesia terasa semakin meningkat. Saat ini industri asuransi jiwa Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Apalagi 2-3 tahun lagi diramalkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia akan menjadi $6.000, Deutche Bank bahkan meramalkan GDP Indonesia akan menjadi kekuatan ke 6 dunia pada tahun 2030, mengalahkan Jerman. Kalau Anda rajin berkeliling Indonesia Anda akan terheran-heran, dimana-mana kelas menengah baru memenuhi bandara, hotel, tempat-tempat rekreasi, sekolah-sekolah internasional dan seterusnya.

            Pertumbuhan kelas menengah yang tinggi ini mengakibatkan dunia perasuransian tumbuh terus. Para CEO perusahaan asuransi asing yang saya temui brlakangan ini mengakui ruang besar untuk tumbuh hanya ada disini. William Kuan, CEO Prudential Indonesia misalnya, tak melihat ruang pertumbuhan industri perasuransian di Singapore, atau Inggris sekalipun. Itu sebabnya Indonesia harus terus memperbarui sistem pendidikannya. Bayangkan saja, industri asuransi jiwa Indonesia baru sekitar 1,3% dari GDP. Padahal Malaysia-Singapura dan Thailand sudah sekitar 3-4%, Jepang 10% dan di Amerika Serikat sudah di atas 10%.

            Dunia asuransi Indonesia tumbuh karena pergerakan ekonomi dan saya yakin dapat tumbuh lebih besar lagi bila pemerintah mengeluarkan paket-paket regulasi yang membuat industri ini lari lebih kencang.  Di Amerika Serikat sendiri industri ini tumbuh karena digerakkan peraturan-peraturan pada level state dan county.  Bahkan untuk merayakan pesta di taman saja, panitia harus membeli asuransi.  Belum lagi profesi-profesi tertentu yang rawan dituntut oleh pengacara-pengacara yang lihai. Ada berita oang terpeleset saja, atau pahanya tersiram air panas minuman di sebuah restauran, sebuah tuntutan hukum segera di layangkan. Dan untuk menghindari hal itulah pengusaha menutup premi asuransi.

           Namun di pasar yang besar-besar itu,   ruang untuk tumbuh sudah stagnan. Dan bila Indonesia tidak segera menghasilkan aktuaris-aktuaris handal, maka ia akan diisi oleh aktuaris-aktuaris dari negeri tetangga. Di MMUI, program kami didukung oleh salah satu perusahaan asuransi jiwa terkemuka dunia yang berkedudukan di Inggris. Perusahaan ini menawarkan berbagai bantuan mulai  fasilitas gedung, kurikulum serta bantuan teknis.   Dan program ini di desain untuk mengisi kebutuhan industri sehingga memberi ruang bagi praktisi dari segala perusahaan untuk berkarir dimanapun.

Sepuluh Tahun
            Seorang calon aktuaris memberi tahu saya, salah satu faktor yang membuat langkanya aktuaris di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dalam matematika keuangan dan ekonomi makro. Padahal, untuk mendapatkan sertifikasi dari PAI, mereka harus mengikuti 10 buah ujian. Dari ketua PAI yang pernah mengambil program serupa di MMUI, saya mendapatkan keyakinan lulusan-lulusan MM aktuaria bisa jadi hanya tinggal menyelesaikan 2-3 ujian, khususnya yang berkaitan dengan industri. Ketua PAI meyakinkan ujian dari mata kuliah yang diketahui lebih dalam diberikan di UI akan lebih mempercepat masa kelulusan.

Tentu saja tantangan ini harus dijawab dengan kesungguhan mengembangkan program berkualitas. Setahun ini kami telah menjembatani pogram dengan industri dan pihak  regulator yang kebetulan dulu adalah mahasiswa atau dosen-dosen  kami sendiri. Selain itu kami juga mendatangkan profesor-profesor terkemuka dari luar negeri. Dua bulan yang lalu misalnya, mereka mengirimkan Prof. Keng Seng Tan, Ketua program studi aktuaria dari Waterloo University – Canada.



Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar