Laman

Selasa, 02 Oktober 2012

Beda “Perusahaan” Kaya dengan “Orang” Kaya


Kata “Kaya” semakin banyak digunakan para motivator. Demikian juga buku-buku motivasi. Sayang sekali bila mereka menyamakan sukses dengan kaya, dan kaya adalah tujuan dalam melakukan apa saja, ya berwirausaha, ya berpolitik. Bahkan berbagi pun ditujukan agar mendapat imbalan, “kembalian yang lebih besar dari Allah”. Mari kita buka fakta-fakta berikut ini.

Kaya Raya, Banyak Harta 
Ustad Jaya Komara,  tewas di sel tahanannya setelah ditangkap  2 bulan lalu di sebuah hotel melati di Purwakarta. Ustad Jaya adalah wirausaha sukses yang kaya raya.  Kekayaannya diduga polisi sebesar Rp. 6 trilyun, berasal dari 125.000 orang nasabah Koperasi Langit Biru. Caranya "sangat cerdas", yaitu menawarkan cara cepat kaya dengan metode money game.  Menurut polisi, Ia memiliki banyak tanah dan sawah dan saat ditangkap sedang bersama istri mudanya.

Kedua, Inong Melinda Dee juga dikenal sebagai perempuan kaya saat bekerja di Citi Bank – Jakarta. Walaupun posisinya hanya Relationship Manager, ia bisa memiliki suami siri berusia baya dan membelikan mobil-mobil mewah (Ferrari Scuderia, Ferrari California dan Hummer) untuk suami barunya itu. Di luar, suami baru itu mengaku sukses  berwirausaha. Saya sempat heran  saat mendengar seorang "motivator" menyebutkan itulah bukti kerja cerdas.  Belakangan kita semua mengetahui, kekayaan itu hanya dapat diperoleh melalui jurus  membobol rekening nasabah Citibank. Malinda divonis 8 tahun penjara.

Orang kaya ketiga kasusnya juga tengah bergulir di pengadilan. Ia adalah perempuan terkaya Indonesia versi majalah Forbes (no 13). Tahun ini Forbes menobatkan suaminya sebagai orang kaya no 14 dengan kekayaan $1,5 miliar. Mereka berpindah-pindah partai politik, mengikuti siapa pemenangnya dan selalu menjadi elite partai. Saat ditangkap ia datang dengan kursi roda, mengaku sakit, dan menangis terisak-isak. Melihatnya saja miris. Publik pun terbelah, antara tidak percaya dan menyumpahinya. Saat dokter KPK memeriksa,  tak ditemukan gejala sakit, ia pun menjadi tahanan KPK. Orang yang sudah muak melihat korupsi di negri ini  bilang itu adalah akal-akalan koruptor yang selalu menghindar pemanggilan dengan berpura-pura sakit. Saya kira  tahu siapa yang saya maksud, Googling saja, ia adalah konglomerat yang gemar muncul di televisi.

Apa yang dapat kita pelajari dari fakta-fakta itu?  Semuanya berasal dari kegairahan tak terbatas mengejar kekayaan, banyak uang, lalu berkuasa. Orang seperti ini biasanya tak pernah puas. Seperti judul sebuah buku yang saya temui di seksi buku inspiratif yang berjudul "Kaya Raya, Banyak Istri Masuk Sorga". Kalau sesuatu tak bisa dibeli, ya dirampas. Supaya jalan mulus, pejabat pun dibeli. Pensiunan orang kuat pun ditaruh dalam struktur organisasi. Semuanya dimulai dari niat awal seseorang berusaha atau berbuat. Ketika kewirausahaan bukan menjadi tujuan, melainkan alat, yaitu alat menjadi kaya, bacaan-bacaannya pun adalah buku jalan pintas yang ada kata-kata “kaya”nya. Mereka tak perlu tenaga ahli, yang diperlukan adalah orang yang mau menjalankan mau mereka.

Perusahaan Kaya
Sekarang mari  pelajari apa bedanya mereka  dengan  “perusahaan” kaya. Perusahaan mencerminkan karakter pembangunnya. Orang bisa saja kaya dari perusahaannya, tetapi  kaya bukanlah tujuannya. Kaya adalah akibat dari pemberian Tuhan,  kerja keras yang cerdas, disiplin diri dan tentu saja berasal dari kepercayaan.

Diantaranya  saya  menemukan perusahaan  yang orang-orangnya tidak dikenal sebagai pengusaha kaya. Nama mereka jarang disebut-sebut. Ambil saja contoh Astra Internasional Tbk yang pertengahan tahun ini mengumumkan keuntungannya ( 6 bulan pertama ) sebesar 9,7 trilyun rupiah dan memperkerjakan 176.000 orang karyawan. Kalau digabung dengan anak-anak peruahaannya, nilai kapitalisasi pasar Astra mencapai 14 % dari seluruh perusahaan yang tercatat di bursa efek Indonesia.

Di kantor Astra saya membaca tulisan ini: Per Aspera Ad Astra, mencapai bintang-bintang di langit memalui kerja keras. Tak ada kata kerja cerdas, kendati mereka terdiri dari orang-orang yang cerdas. Mereka tahu, kecerdasan hanya tumbuh di tangan orang-orang yang mau bekerja keras. Mereka belajar dari berbagai kesulitan. Dan kalau anda bertemu dengan “lulusan” Astra, anda akan mengerti apa yang membedakan mereka dengan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang sangat percaya pada proses, bukan jalan pintas.  Kalau prosesnya sudah benar, outputnya akan benar.

Pandangan Astra itu dituangkan dengan bagus oleh Tjahjadi Lukiman,”lulusan Astra” yang kini aktif di Triputra Group dalam bukunya, “Right Process will Bring Great Results”. Cara pandang ini berbeda dengan buku-buku jalan pintas  yang menjanjikan  seakan-akan ada cara mudah menjadi kaya, yaitu dengan berwirausaha cara cerdas, 2 menit sukses, tanpa modal, cara malas, cara kepepet dan seterusnya.  Kalau belum pernah membangun usaha besar sudah merasa besar, biasanya mereka  tak mengerti bahwa sukses tak semudah yang mereka ucapkan, juga tak pernah mereka pikirkan apa akibatnya bagi masa depan bangsa ini.

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan kaya menuntut proses yang mendalam, dan membangun sebuah proses membutuhkan komitmen yang berarti persiapan (bukan kepepet), keberanian yang dipikirkan (bukan ngawur-ngawuran), sumberdaya yang dicari kiri dan kanan, tata nilai yang dijaga dengan teguh dan penuh kesadaran, membangun manusia menjadi kehebatan.  Dan kaya dalam bisnis berarti kaya pada harta-harta tak kelihatan (intangibles) seperti reputasi, ketrampilan, kejujuran, brand image, pengetahuan, hak paten, jaringan pemasaran, dan segala hal yang tak mungkin dicapai dalam sekejap.

Jadi kaya yang stabil itu bukan besarnya rumah, ukuran tanah, mobil atau perhiasan yang bisa dilihat orang.  Itulah yang membedakan Astra dengan orang-orang kaya yang saya sebut di atas. Anak-anak muda tinggal memilih, ingin cepat  kaya tetapi labil dan berpotensi masuk penjara, atau membangun perusahaan yang kaya dan dihormati banyak orang.  Kalau pilihan jatuh pada yang kedua, bersusah-susahlah dahulu, jaga nama baik dan integritas,  dan  berproseslah

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar