Laman

Senin, 10 September 2012

Berebut Rp. 50 T Uang Mudik - Jawapos 13 Agustus 2012

Sekitar 15,4 Juta orang, akan melakukan perjalanan mudik. Berbeda dengan pemudik migran di negara-negara lain yang cenderung turun, di Indonesia justru naik 4,17% dibandingkan 1432 H. Ini berarti lapangan pekerjaan masih terpusat di kota-kota besar dan pembangunan masih tak merata. Memakai bell curve, maka diperkirakan akan berputar sekitar 50 triliun rupiah hanya dalam dua minggu. Dan jumlah ini bisa naik 2-3 kali lipat, dipicu oleh hutang.

Hitungannya begini, 60% rata-rata pemudik (9,2 juta orang) adalah karyawan kerah biru yang minimal menerima Rp. 1 juta rupiah THR dan membawa minimal dua bulan dari tabungannya setahun bekerja. Jadi rata-rata bisa membawa Rp. 3 juta rupiah. Totalnya mencapai 27,6 triliun.

Lalu 20% pemudik berstatus sosial atas yang menggunakan mobil pribadi, kereta api eksekutif dan pesawat terbang, diperkirakan ada 3,1 juta orang dan masing-masing akan menghabiskan minimal Rp. 9 juta sehingga mencapai 27,9 triliun rupiah. Sedangkan kelompok yang kurang beruntung, yaitu 20% terbawah, juga 3,1 juta orang akan membawa pulang rata-rata Rp. 500.000,- sehingga menjadi 1,53 triliun rupiah. Jadi totalnya sekitar Rp. 57,03 triliun. Ditambah pengeluaran kartu kredit dan hutang jumlahnya bisa menjadi sekitar 150 triliun rupiah. Namun angka konservatifnya, sepertiganya, yaitu sekitar Rp. 50 triliun.

Uang sebesar itu terutama akan mengalir ke bisnis telekomunikasi, transportasi, hiburan, pakaian (fashion), dan makanan melalui anak-anak dan remaja. Perputaran uang dalam jumlah besar ini berlangsung cepat sehingga membuat lonjakan permintaan dan sekaligus kekosongan beberapa hari setelah itu. Celakanya, sebagian besar dinikmati oleh merek-merek asing dalam bentuk royalti, bunga, pulsa, dan sebagainya. Belum ada pemimpin yang menggugah kesadaran memakai merek lokal, menabung atau berinvestasi.
Enduransi Perusahaan
Rezeki sebesar itu disikapi bisnis dengan perspektif yang berbeda-beda. Ada perspektif aji mumpung, dan ada yang sebaliknya, yaitu kesempatan membalas budi.
Perspektif pertama ada di kepala pengusaha-pengusaha di bidang usaha yang saya sebutkan di atas. Menggenjot iklan, promosi penjualan dengan tawaran-tawaran yang menggoda bahkan menjerat pelanggan. Diskon, potongan harga, display, kredit, tukar mobil bekas dengan yang baru dan seterusnya. Intinya adalah agar konsumen cepat-cepat mengambil keputusan dan membeli lebih banyak. Bahwa setelah itu Anda harus mencicil, menanggung hutang, itu bukan urusan mereka.

Seharusnya aparat pemerintah, pelayan-pelayan publik dan lembaga watch dog bekerja lebih gencar saat konsumen menjadi sasaran “vacum cleaner” yang menyedot kesejahteraannya. Peringatan-peringatan harus banyak diberikan agar konsumen tidak jatuh miskin setelah hari raya berlalu.
Perspektif kedua melihat lebaran sebagai sarana berbagi, yaitu opportunity untuk mengikat “kesetiaan”. Sulit dikatakan berbagi dalam marketing adalah murni spiritual, namun hal ini juga tidak dimungkinkan kalau eksekutifnya tidak memiliki kepekaan sosial.

Tahun ini Sido Muncul misalnya, mengirimkan mudik gratis sebanyak 300 bis atau sekitar 12.000 – 16.000 orang. Selain itu  Holcim, BNI, BRI, Jasa Raharja, Carefour, Giant, Honda, Yamaha, Sariwangi, Indofood, Alfamart, dan Indomaret masing-masing mengirim antara 20-200 bis. Tercatat juga Pemda Jawa Tengah yang menyediakan 190 buah bis. Dari Gresik saya mendengar baru  1 perusahaan, yaitu Wiharta Karya Agung. Padahal di kawasan industri ini ada lebih dari 1.500 perusahaan yang mampu mengantarkan para buruh dan pekerja informal pulang mudik.

Perspektif berbagi sendiri baru bisa dinilai kesungguhannya dari enduransinya. Saya mengamati, kebanyakan pengusaha dan pemimpin tidak memiliki enduransi yang panjang. Pemda Banten misalnya, gencar membantu para pemudik gratis tahun lalu. Namun tahun ini tiba-tiba tidak ada lagi. Saya tidak tahu persis apakah pemprov Jateng masih akan melakukannya kembali tahun-tahun depan kalau tidak mendekati pilkada.  Hal serupa terlihat pada banyak perusahaan yang ganti CEO ganti perspektif. Jelas tindakan ini tidak didorong oleh falsafah korporat dan tidak ada guidance dari  corporate values.

Sepanjang pengamatan, hanya Sido Muncul dan Indofood yang memiliki enduransi yang panjang. Indofood telah melakukannya lebih dari 5 tahun, sedangkan Sido Muncul telah 22 tahun. Wajar bila ditemui Mbok-Mbok jamu asal Wonogiri yang sudah ikut mudik lebih dari 20 kali.

Perspektif berbagi memerlukan keteguhan. Berbagi adalah sikap mulia yang diajarkan para nabi besar, apapun agama pemberi dan siapapun yang menerimanya. Anda tak harus beragama Islam untuk berbagai di hari raya Idul Fitri, dan Anda tak harus beragama Kristen untuk  berbagi di hari Natal. Tak perlu melihat warna kulit, agama/kepercayaan atau suku untuk membahagiakan, atau mengurangi beban orang lain. Sebab berbagi itu indah. Bahkan, jika usaha atau kesehatan Anda sedang susah, berbagilah. Maka Anda akan sehat.

Namun satu hal yang membuat enduransi menjadi penting adalah, berbagi itu menuntut pengorbanan. Mengurus ribuan orang tidak mudah, tetapi disitulah ujian bagi iman dan persaudaraan. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf lahir dan Batin.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar