“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It
fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention
to an unhealthy state of things.”
― Winston Churchill
Dahlan
Iskan pernah menyebutkan dalam setiap perubahan selalu saja ada
kelompok 10% yang baiknya "dieman-eman" (istilahnya) saja. Pokoknya
mereka akan selalu menentang. Di komunitas perubahan, kami biasa
menyebut kelompok itu sebagai "oposan abadi". Kelompok ini unik dan
kalau kita mengerti cara berpikirnya, sebenarnya bisa menjadi hiburan
ketimbang menjadi lawan yang menegangkan. Mereka terdiri dari
orang-orang yang bereaksi paling keras setiap kali ada perubahan. Namun
begitu hasil perubahan ada, pelahan-lahan mereka diam juga, lalu
mengangkat kritik pada topik lain. Tetapi dasarnya tetap sama, senang
diperhatikan, senang memarahi, senang dianggap pandai atau penting.
Ganggu sedikit, colek yang banyak, sukur-sukur bisa masuk tv, walau cuma
sekali-kali. Itu sudah menghibur hati. Sudah masuk dalam daftar
CV untuk kegiatan lebih jauh.
Tetapi
Winston Churchill seperti kutipan di atas menyebutkan, sekalipun Anda
tak setuju, kritik itu perlu. Ngga apa- apa, apalagi di abad
transformasi, abad perubahan di negeri demokrasi. Kritik katanya,
ibarat rasa sakit dalam tubuh manusia, pertanda perlunya perhatian untuk
merawat kesehatan. Hanya saja, ia juga pernah mengatakan kritik itu ada
lima macam. Pertama, kritik yang tulus, bertujuan mengingatkan. Kedua
kritik yang bertujuan cari keuntungan. Ketiga, kritik untuk mengatasi
rasa takut. Keempat, kritik cari perhatian. Dan kelima, kritik untuk
menunjukkan identitas.
Demikianlah kritik terhadap kurikulum
baru. Saya kira lima-limanya ada. Mereka hanya dapat dibedakan dari
apa yang mereka kerjakan. Kalau orangtua yang punya anak gelisah
menghadapi kurikulum baru yang tidak jelas, saya kira wajar. Tapi juga
ada khawatir yang besar dari ketidakpahaman sesuatu yang baru, sehingga
seakan-akan nasibnya akan terlunta-lunta. Sejumlah ilmuwan yang melihat
subjeknya "tak ada lagi" dalam susunan mata ajaran segera bereaksi.
Tetapi benarkah subjeknya dihapuskan? Mungkin ini cara berpikir saja.
Atau mungkin ini pertanda pemerintahan tidak sehat, kejelasan tidak ada,
sehingga alih-alih menimbulkan dukungan, yang terjadi justru kritik
yang tajam. Saya sendiri ikut kecipratan amarah, meski hanya menulis
dari apa yang saya pelajari dan saya alami. Lumayan, belajar meregangkan
urat syaraf.
Tapi benar kata Dahlan Iskan. Ini layak dieman-eman,
lumayan bisa menghibur. Kalau ilmuwan marah, selain ada yang benar,
ada juga yang lucu. Bukan logika yang dicari seperti layaknya ilmuwan
sejati yang
open mind, tapi kalimat nggak penting yang
menyinggung perasaannya. Kalimat itu dikutip dalam pesan twitter, lalu
dikomentari dengan gaya dosen zaman dulu yang uring-uringan memeriksa
paper
mahasiswa. Lalu dari situ diharapkan mendapat dukungan dari komunitas
yang tentu saja menjawab dengan jenaka dan lucu-lucuan juga. Sebuah
pergumulan yang indah yang kadang membingungkan bagi yang lain.
Menghujat Kurikulum Lama
Kalau
Anda sempat mengumpulkan tulisan-tulisan saya tentang pendidikan, maka
Anda mungkin tahu sudah lama saya menunjukkan perhatian tentang
pentingnya reform pada sistem ini. Kalau Anda
googling nama
saya dengan kata-kata kunci berikut ini, maka Anda akan menemukan
pemikiran-pemikiran itu: Encouragement, Race of Going Nowhere, Sekolah 5
cm, Myelin, Passport, Sekolah untuk Apa,
Tallent Merrit Vs Exam Merrit, Generasi Bingung Bahasa, RSBI, Generasi Baru, dan seterusnya.
Di
media ini saya juga berulang kali menunjukkan bahwa jumlah mata
pelajaran yang diberikan kepada para siswa di sini sudah kelewat batas,
bahkan yang terbanyak di dunia. Saya berulangkali mengatakan
akibat-akibatnya sangat menyengsarakan anak didik: siswa yang bingung,
tidak kreatif, tidak bisa mengungkapkan isi pikiran dengan baik, dan
kecemasan yang tampak dari tingginya angka kesurupan menjelang UN.
Kritik-kritik itu pun disertai jalan keluar yang saya tunjukkan dalam
kajian.
Lantas, saat pemerintah meresponsnya dengan hadirnya
kurikulum baru, tentu saja saya menyambutnya dengan gembira. Jumlah mata
ajaran dikurangi. katanya, suasana gembira harus ditumbuhkan agar
anak-anak generasi baru tidak lagi stress dalam belajar di sekolah. Ini
persis sama dengan yang sering saya suarakan.
Saya masih ingat
saat diminta Rektor Universitas Andalas Padang, prof. Musliar Kasim
memberi paparan ilmiah di kampusnya, semua akar permasalahan pada dunia
pendidikan dan kewirausahaan saya paparkan. Dan tak lama setelah prof.
Musliar menjadi Wakil Menteri Pendidikan, ia pun meresponsnya dengan
kurikulum baru. Saya sendiri tak tahu persis bagaimana Mendikbud
merumuskan kurikulum baru, tetapi saya dengar mereka mengumpulkan
tokoh-tokoh pendidikan dan kaum cendekia. Saya sendiri tak termasuk di
dalamnya, tetapi sikap saya tidaklah berseberangan, sebab tujuannya
sudah sama. Namun entah apa yang terjadi, tampaknya banyak juga tokoh
pendidikan yang tak diundang bicara, tapi juga tak diajak mengerti.
Akibatnya kritik mereka tumpah di berbagai tempat. Dari kajian
change management, pro-kontra ini menarik untuk dikaji.
Dari
amarah itu saya menemukan kalimat-kalimat menarik yang diucapkan secara
verbal, bahwa "kurikulum baru ini dipastikan gagal". Ini menarik
sekali. Bagi masyarakat, jelas saja belum, dimulai juga belum, dengar
saja cuma dari jauh, apalagi kalau tak terlibat dalam pergulatan
perubahan, tetapi sudah ada yang berani menjamin kurikulum ini "pasti
gagal". Bisa diduga karena kredibilitas pemerintahan yang didera kasus
korupsi terus menerus ini turut memberi imbas.
Dari diskusi internal para pakar yang diselenggarakan Mendikbud itu, saya mendengar ada usulan yang sangat
extrem, yaitu bagaimana agar anak-anak di sekolah dasar "dimerdekakan" dari proyek-proyek buku, dari beban yang berlebihan. Usulan
extrem-nya adalah, "bila perlu, untuk anak SD mata ajar cukup satu saja, yaitu Manusia dengan Alam Sekitarnya".
Saya
teringat lima tahun lalu saya pernah menyampaikan kepada Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) agar "rela" memangkas mata
ajaran yang sudah kebanyakan. Korbannya ya tentu saja anak-anak kita,
anak saya dan anak-anak Anda. Tetapi apa respons Dirjen Dikdasmen?
"Itu masalahnya bukan di kami, melainkan ada di UU Sisdiknas". Penasaran
dengan itu saya pun membuka UU itu, dan disitu saya membaca
masalahnya. Nama-nama subjek yang disebut harus ada dalam sistem
pendidikan nasional (seperti agama, bahasa Indonesia, dan lain-lain)
ternyata diterjemahkan jadi mata ajaran, yang tentu saja berarti
"proyek" bagi penerbit buku dan politisi yang berhubungan dengannya, dan
inilah yang berakibat jumlah mata ajaran di tingkat SMU mencapai 18
hingga 24. Padahal di berbagai negara maju, jumlah mata ajar hanya 6
dengan mata ajar wajib hanya 2 (Bahasa Inggris dan Matematika).
Maka
bagi saya, wajarlah saat Mendiknas "berani" memangkas mata ajaran itu.
Politiknya saya tak mengerti. Tapi tentu saja saya was-was karena
kabinet ini hanya punya waktu setahun lebih. Was-was kalau kurikulum
baru ini kelak dianulir lagi oleh penerusnya pada pemerintahan baru dan
anak didik kembali harus berurusan dengan beban lama. Apalagi kalau
filosofinya tidak sama dan biaya politiknya yang harus ditarik kembali
lebih besar. Masih banyak pula yang berpikir kalau anak-anak diberi
mata ajar yang banyak maka mereka akan lebih hebat. Banyak yang berpikir
belajar itu ya di sekolah. Maka kurikulum sekolah dipadatkan dan peran
orang tua diambil alih semua oleh sekolah.
Logika Keaksaraan
Salah satu ilmuwan yang terganggu oleh kurikulum baru tentu saja
mathematician karena mata ajar ini tidak tiba tak disebut dalam kurikulum baru untuk Sekolah Dasar. Saya kira bukan hanya
mathematician yang wajib bertanya, melainkan kita semua. Dalam
social science seperti yang saya geluti saja,
math
menjadi bahasa yang penting. Maka itu sayapun mengajukan pertanyaan
kepada Mendikbud dan juga kepada Wakil Menteri. Namun jawabannya mudah
saya pahami: Matematika tidak dihapus, tetapi melebur terintegrasi
dalam kesatuan dengan yang lain.
Saya tentu bukan juru bicara
Mendikbud, tetapi saya kira saya bisa mengerti dengan mudah, namun
bagaimana awam dan imuwan lainnya? Ini perlu kerja khusus untuk membuat
masyarakat paham sebab masih banyak diantara kita yang menggunakan
paradigma lama dalam melihat dunia baru, termasuk pendidikan. Saya
masih ingat saat beberapa sekolah tertentu menerapkan metode integratif,
pertanyaan juga banyak diberikan oleh orangtua, bahkan banyak yang
tiba-tiba menarik anaknya keluar. Baru belakangan ini masyarakat
menyadarinya, memang dunia baru sudah berbeda dan Indonesia butuh
lulusan-lulusan baru yang tak hanya pandai bagi dirinya sendiri,
melainkan juga gaul, bisa berkomunikasi dengan baik, kreatif, kaya
perspektif dan mampu mengendalikan emosinya.
Lantas bagaimana saya
memahami hal ini? Ceritanya begini, salah satu pergulatan yang
digumuli Yayasan Rumah Perubahan adalah pendidikan, khususnya anak-anak
usia dini dan balita pra sekolah. Kami menaruh perhatian untuk
memberikan fondasi yang kuat pada anak-anak kampung yang kami lihat
selalu termarjinalkan, dan kalah dalam pertarungan kehidupan melawan
anak-anak kelas menengah. Dari pergaulan dengan para pendidik itulah
saya diperkenalkan dengan metode Sentra yang belakangan mulai banyak
diadopsi. Celakanya metode ini sangat tidak dikenal ilmuwan tua. Meski
tak diajarkan membaca dan berhitung, dalam metode sentra, anak-anak
sudah biasa diajak bernalar keaksaraan.
Ambil contoh saja dalam
sentra bahan alam, diberikan berbagai permainan dengan media tertentu,
bisa biji-bijian, bahan cair, tumbuh-tumbuhan, serangga, pasir dan
sebagainya. Pada saat sentra ini diperankan, sekaligus anak-anak
mendapatkan banyak hal mulai dari klasifikasi, logika volume, bentuk,
ukuran, menemukan warna baru, menghitung, berbahasa, bertutur, imajinasi
dan seterusnya. Saya bisa bercerita banyak dari proses pembelajaran
yang hingga hari ini masih terus kami alami yang membuat istri saya tak
ingin melepaskan waktu barang sedetikpun mengamati anak-anak didiknya.
Logika keaksaraan dibangun dengan fondasi yang menurut hemat saya jauh
lebih kokoh daripada menurunkan rumus di papan tulis yang lalu
dihafalkan, atau didikte oleh guru spesialis yang hanya paham matematika
saja.
Beranjak dari pemahaman metode sentra ( yang harus saya
akui ilmu saya belum seberapa ini) mungkin saya bisa lebih mudah
memahami makna pendekatan integratif yang sering diucapkan Mendiknas
dalam kurikulum baru.
Namun apakah anda masih akan menyangsikan
bahwa guru-guru kita akan mampu menjalankannya? Wallahu A'lam, saya tak
tahu persis. Apalagi birokrasi kita masih kusut seperti ini. Tetapi
saya mau menyampaikan kepada anda, sekolah yang kami asuh tidak diajar
oleh guru-guru bependidikan S1 atau S2. Guru-guru kami adalah orang
kampung yang bersahaja yang disekolahkan kembali. Mereka adalah ibu
rumah tangga yang juga punya anak-anak kecil biasa yang mencintai
anak-anak. Nah, kalau mereka saja bisa, apa iya guru-guru kita sebodoh
yang diduga para elit? Saya kurang bisa mempercayai itu. Meski mereka
orang kampung, mereka bisa membuka mesin pencari Google dan memberi kita
kalimat ini:
“Don't criticize what you can't understand.” ― Bob Dylan
Dalam peradapan
continous improvement,
lebih baik kita mengulurkan tangan kecerdasan kita untuk memperbaharui
pendidikan daripada adu pandai, saling mengunci. Kritik itu perlu,
bagus buat membuat kementerian lebih bersungguh-sungguh. Tetapi membuat
jembatan untuk masa depan jauh lebih indah daripada saling
menakut-nakuti. Kurikulum ini hanya akan jadi bagus kalau ia terus
disempurnakan dengan logika baru yang lebih humanistik dan kreatif.
Apalagi masa kerja kabinet ini cuma tinggal setahun lagi.
Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan