Laman

Minggu, 03 Maret 2013

Bahasa Kamera Cinta Laura - Jawa Pos 25 Februari 2013


Tanpa kamera, selebritas akan berpakaian sama seperti Anda: tanpa make up, rambut palsu,  pakaian ciri “khas”, dan tentu tanpa gaya bicara mereka yang biasa anda lihat di layar kaca.

Saat Barack Obama berkunjung ke Indonesia, sejumlah orang membandingkan bahasa Indonesia yang ia ucapkan dengan bahasa Indonesia selebritas remaja Cinta Laura. Di situs berita inilah.com (10 November 2010) saya menemukan komentar yang dikutip dari pengguna twiter:

"Mendengar Obama bisa bahasa Indonesia membuat saya makin benci sama Cinta Laura," tulis akun Twitter Syzdasyz. Yang lainnya membuat lelucon jika Cinta Laura menjadi Obama. Mungkin Cinta Laura akan bilang 'Bhineyka Cunggal Ikya',  tulis Nurri . "Bahasa Indonesia Obama tidak berlebihan tetapi kok Cinta Laura berlebihan sekali ya?" tanya Eliazer.

Namun benarkah Cinta Laura tidak mampu mengucapkan kata-kata dalam lafal bahasa Indonesia yang baik? Cara bicaranya yang unik ini bahkan menjadi pembahasan di salah satu blog, yaitu: http://jerryhadiprojo.wordpress.com/2008/02/21/analisis-perilaku-dan-perkataan-cinta-laura/.
Dalam film layar lebar ternyata Cinta Laura bisa berbicara dalam bahasa Indonesia yang normal.  Coba buka potongan film pada link di situs YouTube.com berikut ini (Cinderella Rp 156, Part 4/6),   September 30, 2007:
 http://www.youtube.com/watchv=8S7RRYRbDac&feature=youtube_gdata_playerSeorang kameramen televisi  melaporkan, dalam percakapan biasa Cinta Laura ternyata juga berbicara dalam lafal bahasa biasa, normal-normal saja. Ia baru berubah saat kamera infotainment menyalakan lampu-lampu sorot dan bertanya kepadanya.

Saat mendiskusikan topik Camera Branding, seorang follower saya (@Rhenald_Kasali) di Twitter,  menulis begini:
“Prof @Rhenald_Kasali saya pernah mkn, meja samping saya CinLau w/ her fam. Bicaranya biasa kok, wlo sskli ngmg Jerman ke bpknya & English”

Hidden Camera
Demikianlah akting manusia dalam peradapan kamera.  Saya yakin akting bukan hanya ada di kalangan artis.  Tanpa kehadiran kamera di ruang parlemen, saya kira anggota-anggota perlemen yang terhormat tidak akan ber-“akting” seperti layaknya pemain sinetron. Mereka tidak akan saling menunjuk jari, mengepalkan tangan, menggebrak-gebrak meja, atau menuding-nuding tidak santun. Buktinya, selesai sidang mereka bisa dengan mudah berangkulan dan menyatakan, “Kami tak ada masalah kok!” Dan saat tertangkap tangan oleh KPK, publik terkejut: mereka yang berseteru di layar kaca saat sidang berlangsung ternyata bersahabat dalam menggarap proyek-proyek tertentu.

Demikian pula saya yakin Hotman Paris dan Ruhut Sitompul tak akan berbicara seperti tengah berkelahi.  Sama seperti anda, ketika berfoto anda yang jarang tersenyum bisa menjadi sumringah dan anak-anak Alay menjadi tampak gembira bergaya, sementara direksi yang tengah difoto untuk company profile menegakkan dagunya agar tampak berwibawa.

Inilah dunia yang serba salah. Tak ada kamera orang bisa memeras tanpa alat bukti, uang negara dikuras koruptor dan kejahatan sulit diungkap. Tapi bila ada kamera manusia langsung berakting. Maka tak heran kalau manusia umumnya lebih percaya pada hidden kamera. 

Sosiolog  Erving Goffman mencatat kehidupan ini tak ubahnya  "a never-ending play" yang menjadikan semua orang pemain sandiwara dengan berbagai peran.  Ia membedakan panggung depan  dengan panggung belakang.  Namun manusia modern senang menghabiskan waktu sehari-hari di panggung depan, menampilkan kemampuan dan peran secara terbuka: Perayaan perkawinan, memberi penjelasan, memimpin, mengajar, mengemudi, melayani dan seterusnya. Tetapi siapa yang tidak letih terus menerus berada di panggung depan?  Goffman menyarankan agar pemain panggung sedia keluar secara berkala, kembali ke belakang panggung  menjalani kehidupan normal.

"In these private areas, we don’t have to act. We can be our real selves. We can also practice and prepare for our return to the front stage" - Erving Goffman.
Bila ini diteruskan, manusia yang ber-acting terus menerus, dapat menjadi aktor yang manipulatif, memanipulasi orang lain untuk kepentingan pibadi.  Inilah yang disebutnya sebagai Impression Management.

Coba buka video rekaman video Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat memimpin  rapat resmi dengan kepala dinas PU-Pemprov DKI.  Di situ ia terkesan marah-marah saat  menuntut agar biaya pembangunan infrastruktur dipangkas 30%.

Namun di lain kesempatan, juga di Youtube.com kita membaca  bahwa dirinya tidak benar-benar marah ketika itu. Menganalisis kedua video yang berbeda kesan ini mungkin anda akan bingung.  Tetapi Inilah peradapan kamera dan peradapan advanced dramaturgy.  Semua pemimpin hanyalah ber-acting saat berada di panggung depan. Dalam studi tentang camera branding yang saya lakukan, kami banyak menemukan bahwa kamera telah banyak digunakan untuk membentuk personal dan corporate brand.


Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar